Kliping
Semangat Bocah Lereng Merapi
Panggung di depan Jogja National Museum disesaki penonton anak- anak. Sambil disuapi makan atau sekadar duduk bengong, mereka enggan beranjak dari depan panggung. Di panggung, bocah-bocah dari lereng Merapi, seusia mereka, melakonkan wayang orang dengan jenaka.
Wayang orang di tangan anak-anak dari Grup Wayang Bocah Tjipta Boedaya menjadi tak terasa kuno. Gelak tawa terus berderai melihat tingkah polah bocah-bocah dari Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Dukun, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, itu. Pemanggungan pada Jumat (23/7) membuktikan bahwa balutan kental tradisi Jawa ternyata masih diminati generasi muda.
Perhatian penonton terutama terkuras kepada tokoh punokawan, Bagong, Gareng, dan Petruk, yang diperankan bocah-bocah di bawah usia enam tahun. Dengan hanya tampil di panggung penuh riasan muka tebal saja, tawa penonton sudah pecah. Apalagi ketika mereka mulai bertingkah polah.
Bagong, Gareng, dan Petruk sempat hanya berdiri malu-malu di atas panggung tanpa melakukan apa pun. Ketika para penabuh gamelan meminta mereka bernyanyi, punokawan yunior itu pun mulai menyanyikan lagu anak-anak, seperti Bintang Kecil hingga Cublak-cublak Suweng.
Penampilan punokawan hanya sebagian kecil rangkaian kisah pewayangan dengan lakon Srikandi Mustakaweni. Puncak kisah terjadi pada pertarungan Srikandi, sang penjaga kehormatan Pandawa, dengan putri cantik Mustakaweni yang dibakar dendam karena ayahnya, Prabu Niwatakawaca, mati di tangan Arjuna dalam pertarungan.
Mustakaweni sempat berubah wujud menjadi Gatotkaca dan pergi ke Keraton Amarta. Gatotkaca gadungan mengambil pusaka andalan Pandawa, Jamus Kalimasada. Ketika mengejar Mustakaweni, Srikandi bertemu ksatria Glagah Manis Bambang Priambada yang adalah anak Arjuna.
Priambada akhirnya berhasil merebut kembali Jamus Kalimasada, sebelum akhirnya menjalin cinta dengan Mustakaweni. Dengan penggalan kisah pewayangan tersebut, anak-anak diajak untuk menaklukkan dendam. Menguasai hati. Ketulusan hati dan cinta kasih menjadi unsur terpenting agar bisa hidup rukun.
Pimpinan Grup Wayang Bocah Tjipta Boedaya Sitras Anjilin mengatakan, tradisi wayang bocah di dusunnya diwariskan turun- temurun sejak era 1970-an. Saat ini, grup wayang bocah beranggotakan 30 anak. Dengan media wayang bocah, anak-anak diajari budi pekerti melalui pengenalan tokoh pewayangan.
Dunia kanak-kanak
Oleh karena mahir menggunakan bahasa Jawa, anggota grup wayang bocah pun cenderung mencintai kebudayaan Jawa. Teguh, ayah Slamet Widodo (12), yang berperan sebagai Gatotkaca, mengaku sudah mengenalkan dunia pewayangan kepada anaknya sejak usia taman kanak- kanak. "Agar bisa nguri-uri kebudayaan Jawa sehingga tidak menjadi liar," kata Teguh.
Setiap pekan, anak-anak itu berlatih menari dua kali. Melihat pengaruh yang baik bila anak-anak bergabung dengan grup wayang sejak kanak-kanak, orangtua seperti Marmujo mengajak dua anaknya, Ria (13) dan Intan (8), memeriahkan pemanggungan wayang orang.
Tak hanya tampil ke luar daerah, wayang bocah selalu tampil rutin empat kali dalam setahun di desanya sendiri. Pementasan yang mereka jalani, antara lain, pada pemanggungan perayaan hari kemerdekaan, perayaan tahun baru Jawa, dan Lebaran. "Lakon yang dibawakan tergantung jumlah anak yang bisa tampil," ujar Sitras.
Seusai memukau penonton dengan penampilan di atas panggung, semua pemain wayang bocah berdiri berjajar di atas panggung; lalu meneriakkan yel yel mereka. "Anak Merapi, semangat budaya, punya harga diri! Yes... yes... yes...." Merekalah, dari lereng Merapi untuk budaya Jawa. (MAWAR KUSUMA)







