Kliping
APLIKASI TEKNOLOGI: Dunia Tak Segelap Dulu Lagi
Kompas, Senin 26 Juli 2010, Keterbatasan tak lagi halangan bagi para difabel mengakses teknologi. Peranti lunak terbuka, Orca, memungkinkan difabel tunanetra berinteraksi dengan komputer. Jumat (23/7), Komunitas Air Putih Jakarta bekerja sama dengan Cinome menggelar workshop pengenalan aplikasi pembaca teks pada layar bagi tunanetra yang berbasis program peranti lunak terbuka, Orca. Workshop diadakan dalam Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 di Jogja National Museum, Jumat lalu. Peserta workshop diundang dari Panti Sosial Bina Netra Yogya.
Cara kerja Orca dianalogikan seperti komputer yang berbicara. Pengguna mengetikkan karakter yang diingini di papan ketik (keyboard). Aplikasi Orca membacakan karakter yang diketik. Syarat operasinya, selain memasang sistem operasi Ubuntu, komputer harus dilengkapi alat bantu dengar. Alat itu dibutuhkan agar pengguna mendengar apa yang mereka ketik.
Walau masih harus menggunakan alat bantu dengar, para tunanetra menolak menggunakan keyboard khusus huruf Braille. Mereka memilih keyboard biasa. Keputusan menggunakan keyboard umum berdasar diskusi tim Air Putih dengan Yayasan Mitra Netra Jakarta. Mereka ingin menggunakan Orca tanpa batasan jenis keyboard komputer.
Harus menghafal
Menggunakan Orca butuh proses. "Para tunanetra wajib menghafalkan susunan keyboard," kata Imron Fauzi, Koordinator Badan Pelaksana Harian Air Putih Jakarta. Pengguna juga harus dilatih dua minggu. Mereka dibimbing cara penggunaan Orca dan penghafalan susunan keyboard. Para tunanetra sangat terbantu Orca. Aksen Indonesia pada Orca memudahkan mereka mengetik lebih cepat. Mereka juga lebih mudah berkomunikasi lewat program chatting. Mereka juga lebih sering "membaca" buku. Orca menyediakan program e-book. Hal itu membuka kesempatan tunanetra menikmati karya sastra digital. Tak hanya itu, Orca juga memungkinkan tunanetra mengerjakan beragam pekerjaan, seperti editor audio, penulis buku, dan ahli informatika.
Aplikasi Orca bisa diunduh gratis. Sebelumnya, produsen lain mengembangkan program serupa, namun harus membayar puluhan juta rupiah.
http://cetak.kompas.com/read/2010/07/26/16562766/.dunia.tak.segelap.dulu.lagi
