Kliping
MEDIA RAKYAT: Kembalikan Hakikat Penyampai Pesan
Yogyakarta, Kompas, Jumat 23 Juli 2010, Jagongan Media Rakyat digelar kedua kalinya di Jogja National Museum, 22-25 Juli, dengan melibatkan 41 media komunitas berbagai daerah. Media Rakyat diharapkan menjadi penyampai pesan antarmasyarakat.
Maraknya media komunitas yang diinisiasi rakyat sejak reformasi membawa iklim keterbukaan. Lewat kegiatan ini, masing-masing komunitas ingin mengembalikan hakikat media rakyat yang cenderung menyempit ke media arus utama yang dikendalikan industri. "Makna media jauh lebih variatif, yaitu sebagai penukar pesan," kata Direktur COMBINE Resource Institution, Akhmad Nasir, penyelenggara kegiatan, Kamis.
Jagongan Media Rakyat 2010 menjadi ajang pertemuan antarkomunitas, kelompok, penggiat, dan peminat media rakyat digelar empat hari. Kegiatan ini berisi diskusi, sarasehan, penayangan video, dan pertunjukan seni. "Diharapkan ke depan bisa menjadi acara rutin," ujar Nasir.
Pengesahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang memasukkan pasal penyiaran komunitas merupakan kemenangan bagi rakyat. Media komunitas berperan penting memperkuat potensi yang ada dalam komunitas agar lebih mandiri.
Media yang diinisiasi rakyat, antara lain, diwujudkan dalam bentuk buletin, radio, video, film, hingga blog. Saat ini terdapat sekitar 400 radio komunitas 60 televisi komunitas di Indonesia.
Aplikatif
Beberapa media komunitas yang terlibat adalah Yayasan Kampung Halaman yang mendorong penguatan peran remaja dalam komunitas melalui pendidikan aplikatif berbasis komunitas. Bejo Dongeng memanfaatkan dongeng sebagai media pendidikan budi pekerti tepat guna dan mudah dipelajari.
Untuk mengoptimalkan dampak hadirnya media komunitas, menurut Manajer Media COmbie Ade Tanesia, dibutuhkan relasi yang lebih erat berbagai jenis media komunitas. Jagongan Media Rakyat menjadi forum berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam mengelola informasi dan mengorganisasi masyarakat serta berjaringan dengan berbagai pihak.
Mukhotib dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia menambahkan, media komunitas harus terus berproses untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tanpa fasilitasi pemerintah. "Media komunitas harus kritis untuk mengenali identitas diri,"kata Mukhotib. (WKM)
