Kliping
suaraislam.net: Wajah Islam Moderat di Dunia Maya
"Pesantren adalah basis keberagaman. Di sanalah kita berinteraksi dengan sesama dari berbagai daerah di Indonesia. Kepentingan untuk memperkuat pesantren bukan hanya milik umat Islam, tetapi juga tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia yang menghargai keberagaman," tegas Kyai Haji Jazilus Sakhok dalam diskusi bertajuk "Pengelolaan Informasi di Tengah Arus Radikalisasi Agama dan Peluncuran Portal suaraislam.net." Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian acara di Jagongan Media Rakyat di Jogja National Museum, Jl. Amri Yahya no. 1 Gampingan, Yogyakarta. Hadir pembicara lain Nur Khalik Ridwan, penulis buku Trilogi Melawan Arus Wahhabi dan Ibad dari suaraislam.net.
Nur Khalik Ridwan membuka sesinya dengan paparan singkat sejarah Islam pascakemerdekaan di Indonesia. Menurutnya saat Indonesia didirikan pada tahun 1945, pihak Islam yang mendukung keberadaan RI adalah Masyumi yang terdiri dari beragam organisasi Islam. Saat para pendiri negara ini merumuskan pancasila, organisasi Nahdatul Ulama dan Masyumi menerima. Tetapi ada satu kelompok yang menolak yaitu NII (Negara Islam Indonesia). Inilah akar dari pertarungan Islam moderat dan garis keras di Indonesia. Penumpasan pemberontakan kelompok ini yang dipimpin pada tahun 1962 tidak berarti mematikan gerakan mereka. Lahirlah generasi baru dengan tokoh Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir yang kemudian melahirkan kelompok-kelompok baru yang memilik pandangan sama. Dalam pandangan mereka pancasila memang harus dihancurkan dan diganti dengan syariat Islam. Metode penyebaran gagasannya melalui pesantren-pesantren kilat, dan penguasaan seluruh teknologi informasi termasuk internet.
Para pemikir muda Islam moderat yang berakar dari kultur Nahdatul Ulama menganalisis bahwa pemaknaan Islam yang beredar di dunia maya lebih dikuasai oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Oleh karena itu para pemikir pemuda ini menggagas sebuah portal bertajuk "suaraislam.net" yang ingin memberikan perspektif Islam yang moderat yang mendukung penghargaan terhadap pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Melalui portal inilah diharapkan warga yang belajar di pesantren bisa bertukar informasi, belajar mengenai sebuah perspektif Islam moderat.
Kyai Haji Jazilus Sakhok mengungkapkan bahwa keberadaan pesantren memang bisa berperan sebagai basis gerakan Islam moderat di Indonesia. Namun sebelumnya perlu dibedakan antara pesantren dengan istilah-istilah baru seperti Islamic Boarding School, dan lain-lain. Di dalam pesantren tradisional budaya yang menghargai keragaman telah ditanamkan sejak dini. Keberadaan pesantren memang tidak bisa dipisahkan dari Walisongo yang melakukan dakwahnya dengan metode akulturasi, yaitu menghargai budaya setempat. Inilah akar dari pesantren sehingga jika ada pesantren yang tidak mendukung keberagaman perlu dipertanyakan. Pertanyaan penting yang diajukan oleh KH Jazilus Sakhok adalah masyarakat Indonesia masih bersifat asimilatif? Masih adakah pluralisme di Indonesia? Jika gerakan radikal agama yang meniadakan budaya lokal tidak mampu ditangkal, apakah hal ini disebabkan begitu kuatnya mereka atau begitu lemahnya kita?
Organisasi INFEST yang membuat suaraislam.net tentunya sadar bahwa medium untuk memperkuat perspektif Islam moderat harus menggunakan beragam media. Tidak heran jika penguatannya tetap dilakukan melalui tatap muka dengan roadshow ke berbagai pesantren di Indonesia. Melalui transformasi cara pandang inilah, saya percaya bahwa kultur pluralisme yang dimiliki bangsa ini tetap bisa bertahan. Seorang teman berkata bahwa model Islam yang akan mendominasi dunia adalah yang telah berkembang di Indonesia dimana keberagaman begitu dijunjung tinggi. Singkat kata jika bangsa Indonesia dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia bisa mempertahankan nilai-nilai pluralisme, maka masa depan Islam dunia ada di Indonesia. Diskusi ini ditutup oleh adzan magrib. Para santri pun harus pulang, dan mereka bisa melanjutkan diskusi dengan para aktivis di organisasi INFEST. (Ade Tanesia/Tim Media JMR 2010)
