Berita
Raih Potensi, Liarkan Imajinasi
Zaman ini, dunia maya menjadi pisau bermata dua yang siap menjadi kawan dan lawan. Menjadi kawan jika kita bisa mengoptimalkan penggunaanya dengan baik – dan sebaliknya. Salah satu dari contoh optimalisasi penggunanya adalah penyaluran potensi komunitas melalui media maya. Salah satu komunitas yang mencoba optimalisasi ini adalah Komunitas Senyum Kita (KSK). Optimalisasi ini dibincangkan dalam diskusi pada “Pemanfaatan Media Online untuk Memaksimalkan Potensi Komunitas” di Ruang 4, Jogja National Museum (JNM) pada 24 Juli 2010 bekerjasama dengan Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta. Diskusi ini menghadirkan Gugus A Sakti (admin Web Magazine Senyumkita.com) dan Fajar Nugroho (editor Web Magazine Senyumkita.com). Meskipun diskusi tanggal 24 Juli tersebut tidak dihadiri oleh banyak orang, diskusi dapat berjalan dengan cukup baik dan partisipatif.
Diskusi diawali dengan pemutaran film drama komedi berjudul Patch Adams yang dibintangi oleh Robin Williams dan disutradari oleh Tom Shadyac. Kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan materi oleh Fajar Nugroho. Ia mengungkapkan bahwa media online atau daring (dalam jaringan) sering diartikan sebagai Internet (dunia maya). Di Indonesia sendiri, media daring awal mulanya dikaitkan dengan media penyampai berita secara cepat dan mudah. Kehadirannya pun meledak sejak era Reformasi dan pengaksesnya meningkat sampai 45 juta pada Juni 2010 (menurut data Kementerian Komunikasi dan Informasi/ Kemenkominfo). Sekarang malah internet pun semakin mudah diakses seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya, dengan telepon seluler yang menyediakan fitur GPRS.
Fajar juga mendefinisikan komunitas sebagai kumpulan orang yang memiliki kesamaan dalam ketertarikan dan hobi. Komunitas lalu dapat didikotomi menjadi komunitas offline dan online. Dengan berbagi, termasuk dengan memanfaatkan media daring, komunitas akan bisa mengembangkan potensinya. Bentuk media daring yang dikenal saat ini adalah webpage, milis, blog, situs jejaring sosial, dan micro blogging. Dan, penggunaannya tergantung dengan sifat komunitas pengguna media daring terkait.
Selanjutnya, Gugus membagikan pengalaman KSK dalam menggunakan media daring. Berawal dari e-magazine dan berkembang ke web magazine, fanpage, dan melalui situs jejaring sosial yang ada. Kesemuanya dilakukan dengan proses trial and error. Sedangkan menurutnya, pemanfaatan media daring memberikan manfaat positif bagi KSK, yaitu: perluasan/ peningkatan kesempatan untuk diliput media massa lain, kemudahan mempublikasikan kegiatan, gagasan, dan unek-unek. Serta memperbanyak dukungan dari pihak atau komunitas lain.
Ia juga memberikan beberapa tips dalam menggunakan / memanfaatkan media aring untuk memaksimalkan potensi komunitas. Yang terpenting bukan hanya layout design, tapi juga kemudahan mengakses fitur (pengaturan/ penataan elemen). Konten sebagai kunci juga harus bersifat positif dan kreatif. Sehingga akan makin menarik lebih banyak pembaca/ peminat. Selain itu, postingan atau web kita dapat juga dimasukkan ke dalam situs social bookmarking.
Setelah pemaparan materi, Fajar dan Gugus mengajak peserta diskusi untuk memberikan komentar, gagasan, dan pengalaman menggunakan media daring. Sebelum diskusi santai tersebut diakhiri dengan tepuk tangan bersama, Fajar dan Gugus mengajak peserta diskusi untuk lebih memanfaatkan media daring yang ada untuk pengembangan / pemaksimalan potensi diri sendiri dan komunitasnya. Rutinlah meng-update konten yang baik dan tentukan keyword yang cukup penting / populer! Bebaskan imajinasimu seliar kakimu melangkah!
(Christian Apri Wijaya/ Tim Media)
