Media Komunitas yang Ramah oleh Komunitas Dampingan PKBI
23 Jul 2010 13:00 - 18:00 WIB
Media Komunitas yang Ramah oleh Komunitas Dampingan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)
Mulanya sebagai kritik terhadap model komunikasi berdasar model pembangunan yang memposisikan dunia ketiga sebagai “yang terbelakang” dalam pendidikan dan informasi, media komunitas menjadi alat yang dianggap cukup efektif sebagai media advokasi perjuangan isu dan kebutuhan komunitas yang selama ini tidak terakomodasi oleh Negara. Di bawah adalah beberapa contoh.
Ibu Yayuk – Koordinator PPS (Perempuan Pekerja Seks) dari komunitas Badran atau Bong Suwung, mengungkapkan dari tahun 1999 sering terjadi penangkapan dengan kekerasan dan pelecehan seksual oleh satpol PP termasuk pengenaan denda yang memberatkan. Berharap pada teman-teman semua untuk mendukung komunitasnya, selama ini yang sudah dilakukan adalah menulis buku, aksi damai menyuarakan isu teman-teman komunitas, dan pertemuan rutin Kamisan komunitas PPS berlangsung sebulan sekali.
Trimbil anak jalanan Alun-alun Kidul mengungkapkan pernah terjadi satu kasus razia pengamen yang sebelumnya tidak pernah terjadi razia sama sekali, dengan hanya sebagian pengamen yang ditangkap dan pengamen yang lain di biarkan saja.Esok harinya masuk berita di stasiun televisi lokal. Terlihat ada ‘kerjasama’.Disini media menggunakan pemberitaan yang diskriminastif dan menihilkan manusia dengan alasan banyak masyarakat tertarik dengan berita-berita yang berbau kriminal terlepas sesuai tidaknya dengan fakta yang ada.
Sinta dari Youth Forum – kumpulan remaja terutama anak-anak SMA di Yogyakarta yang peduli isu Kesehatan Reproduksi mengungkapakan bahwa banyaknya media yang diskriminatif dalam pemberitaan dengan selalu menyalahkan remaja – dengan beranggapan bahwa remaja itu nakal, tidak terkonsep dan tidak mempunyai orientasi ke depan. Terkait itu Youth Forum mempunyai media cetak “Mampir” dan “Mak Erot” yang mengemas isu-isu tentang kesehatan reproduksi dan seksual serta informasi lainnya dalam cara yang sesuai media-media yang dibaca oleh remaja.
Mart Widarto dari Combine mengungkapkan pengekangan berekspresi kreatifitas media. Pada zaman Orde Baru, karena setiran penguasa. Lalu pasca reformasi ada dominasi pemilik modal. Media dalam pemberitaan dipengaruhi oleh pemeringkatan kelarisannya sebagai media yang sangat menarik. Disini jelas terlihat media hanya untuk bisnis dan yang kuat modal padahal fungsi media adalah medium atau penghubung, Akibatnya ketika ada kelompok tertentu ingin menyuarakan hak-haknya banyak media tidak tertarik, karena takut tidak laku.
Terlepas banyaknya kegiatan kampanye advokasi isu yang dilakukan berbagai media komunitas, mengingat banyaknya hasil yang diinginkan yang belum terjadi patutlah keberadaan mereka terus didukung (JMR).
Mulanya sebagai kritik terhadap model komunikasi berdasar model pembangunan yang memposisikan dunia ketiga sebagai “yang terbelakang” dalam pendidikan dan informasi, media komunitas menjadi alat yang dianggap cukup efektif sebagai media advokasi perjuangan isu dan kebutuhan komunitas yang selama ini tidak terakomodasi oleh Negara. Di bawah adalah beberapa contoh.
Ibu Yayuk – Koordinator PPS (Perempuan Pekerja Seks) dari komunitas Badran atau Bong Suwung, mengungkapkan dari tahun 1999 sering terjadi penangkapan dengan kekerasan dan pelecehan seksual oleh satpol PP termasuk pengenaan denda yang memberatkan. Berharap pada teman-teman semua untuk mendukung komunitasnya, selama ini yang sudah dilakukan adalah menulis buku, aksi damai menyuarakan isu teman-teman komunitas, dan pertemuan rutin Kamisan komunitas PPS berlangsung sebulan sekali.
Trimbil anak jalanan Alun-alun Kidul mengungkapkan pernah terjadi satu kasus razia pengamen yang sebelumnya tidak pernah terjadi razia sama sekali, dengan hanya sebagian pengamen yang ditangkap dan pengamen yang lain di biarkan saja.Esok harinya masuk berita di stasiun televisi lokal. Terlihat ada ‘kerjasama’.Disini media menggunakan pemberitaan yang diskriminastif dan menihilkan manusia dengan alasan banyak masyarakat tertarik dengan berita-berita yang berbau kriminal terlepas sesuai tidaknya dengan fakta yang ada.
Sinta dari Youth Forum – kumpulan remaja terutama anak-anak SMA di Yogyakarta yang peduli isu Kesehatan Reproduksi mengungkapakan bahwa banyaknya media yang diskriminatif dalam pemberitaan dengan selalu menyalahkan remaja – dengan beranggapan bahwa remaja itu nakal, tidak terkonsep dan tidak mempunyai orientasi ke depan. Terkait itu Youth Forum mempunyai media cetak “Mampir” dan “Mak Erot” yang mengemas isu-isu tentang kesehatan reproduksi dan seksual serta informasi lainnya dalam cara yang sesuai media-media yang dibaca oleh remaja.
Mart Widarto dari Combine mengungkapkan pengekangan berekspresi kreatifitas media. Pada zaman Orde Baru, karena setiran penguasa. Lalu pasca reformasi ada dominasi pemilik modal. Media dalam pemberitaan dipengaruhi oleh pemeringkatan kelarisannya sebagai media yang sangat menarik. Disini jelas terlihat media hanya untuk bisnis dan yang kuat modal padahal fungsi media adalah medium atau penghubung, Akibatnya ketika ada kelompok tertentu ingin menyuarakan hak-haknya banyak media tidak tertarik, karena takut tidak laku.
Terlepas banyaknya kegiatan kampanye advokasi isu yang dilakukan berbagai media komunitas, mengingat banyaknya hasil yang diinginkan yang belum terjadi patutlah keberadaan mereka terus didukung (JMR).
Acara sedang Berlangsung
Juli 2010
Kamis, 22 July 2010







