Diskusi: "Jelajah Desa yang Mendunia"
23 Jul 2010 09:00 - 12:00 WIB
Kartu Nama dan Sepeda
Saya selalu ingin berbuat yang berbeda. Kecintaan saya akan sepeda sudah lama sekali , sejak saya SD. Karena saya adalah anak desa. Awalnya saya bekeja disalah satu restaurant, bertemu berbagai macam orang, bagi saya itu sangat luar biasa, karena disana banyak turis asing, dan juga guide. Karena itu saya banyak belajar di para guide , saya mulai belajar bahasa asing.
Saya belajar juga dengan para pengrajin, saya bekerja sambil belajar disitu.
Hingga saya masuk ke hotel”jogja plasa” itupun dikenalkan oleh guide yang seorang tukang becak. Malam saya kerja di hotel, tapi saya tidak mau terpengaruh pengaruh buruk.
Saya ikut datang dalam pameran-pameran, dari itu saya banyak kenalan. Suatu waktu saya bertemu orang korea, kami beum pernah bertatap muka hanya melalui telepone. Dari itu saya dapat ilmu tentang desain. Lalu saya mulai banyak belajar dari teman dari belanda, spanyol. Saya bertemu warga philipine, ternyata dia adalah arsitek. Akhinya saya keluar kerja hotel, saya bekerja dengan dia karena saya mengenal banyak pengarajn lewat kartu nama. Mulanya saya tidak bisa beradaptasi, akhirnya saya banyak belajar dan saya yakin saya bisa.
Lalu saya beranikan diri untuk desain sendiri,tiga bulan dikawal. Mulai tahun 2000 saya maenjadi pengoleksi onthel, saya membeli sepeda dan ternyata itu ditaksir turis korea.
Dari sepeda ituah saya mulai berjaan jalan kota jogja, dari situ saya sadar, bahwa jogja itu luar biasa, saya muai kecanduan akan sepeda onthel.
Saya memiliki buku tentang sepeda, buku tersebut ditaksir koektor sepeda Amir . Sejak bertemu dengan nya saya terinspirasi untuk mencintai onthel.
Saya yakinkkita harus berkaya, maka kita angkat dari sepeda itu. kita angkat suasana tempo dulu, berekspresi dengan pakaian.dengan membuat tema tema .
2006 deklarasikan jogja onthel, di depan pagaran kraton yogya.
Dari situ saya mulai diundang kemana mana, saya tidak kaya harta, tapi saya kaya teman.
Disitu saya mulai wisata desa untuk menghidupi keluarga saya, saya yakin hal ini sangat menarik minat wisatawan mancanegara. Dimulai dai dari kulon progo, yang masih asri. para tamu saya bawa kesana, tenyata tamu orang belanda bsa menikmati orang desa. Setiap tahun hampir setiap hari ada wisatawan. bisa membantu ekonomi desa tersebut juga, jangan teralu dipikirkan masalah bahasa, saya uga tidak fasih dalam bahasa asing, tapi dengan adanya kemauan kita dapat menjamu tamu.
Misanya bagaimana cara pebuatan tempe, bagaimana menanam padi, hal kecil itu sangat menarik wisatawan. saya memiliki lima puluh sepeda sekarang.
jadi saya ini wisata tapi juga dibayar. Ini semua berawal dari kartu nama dan sepeda.







