Diskusi "Advancing Public Interest Media" kerjasama dengan Arizona State University
22 Jul 2010 13:00 - 21:00 WIB
Media Komunitas, Impian Bersama
Apa tujuan sebuah komunitas mengembangkan medianya sendiri? Inilah pertanyaan inti dalam diskusi bertajuk “Advancing Public Interest Media.” Diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Arizona State University bertempat di Ruang 4, Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Merlyna Lim sebagai fasilitator mampu mengajak peserta untuk berbagi gagasan mereka tentang media komunitas.
Setelah saling berkenalan, diskusi dimulai dengan saling curah gagasan tentang media “publik” seperti apakah yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat. Media publik yang dimaksud adalah media yang berpihak pada kepentingan publik. Merlyna Lim kemudian meringkasnya dalam beberapa karakteristik media, yaitu media yang menyebarkan gagasan atau ide yang meng-subyekkan sumber dan pembaca berita (pengalihan wacana), menghargai karya, mudah diakses secara sosial dan ekonomi, dekat dengan realita/ isu yang ada dalam dan dari masyarakat, mampu menyerap aspirasi masyarakat (membumi), bersifat partisipatoris/ menjalankan fungsi sebagai ruang publik, dan komunitas/ publik bisa ikut memiliki serta mengelola untuk kepentingan bersama.
Tak hanya itu, peserta dan Merlyna kemudian membahas beragam persoalan yang sering dihadapi oleh media. Terutama, pengalaman aktivis komunitas dalam menggunakan media (media komunitas). Masalah yang kerap dihadapi adalah regulasi dan legalitas. Media komunitas dan media pewarta warga sering terkendala dalam beraktivitas karena status hukum mereka yang tidak jelas. Padahal, kemampuan serta kejujuran mereka mungkin lebih baik daripada jurnalis yang terikat oleh institusi media tertentu.
Selain itu, terdapat pula jurnalis atau pegiat media komunitas yang hanya mementingkan pemahaman teknis tanpa memahami penyusunan konten yang baik. Seringkali, mereka sangat subyektif (mementingkan diri sendiri atau kelompoknya). Hal ini membuat media komunitas sulit melakukan transformasi sosial. Tidak adanya kanal-kanal penghubung atau mediator ditengarai sebagai salah satu penyebabnya.
Akhirnya, Merlyna mengharapkan para peserta diskusi untuk mengubah cara pandang mereka. Mencoba melihat secara lebih makro bahwa banyak celah kosong yang ditinggalkan media mainstream. Dengan kata lain, media mainstream tidak sepenuhnya mendominasi publik. Dan, media komunitas/ media pewarta warga seharusnya muncul menjadi media yang berpihak kepada kepentingan publik. Muncul sebagai media gotong royong yang menjadi impian bersama (Tim JMR 2010).







